Sunday, May 9, 2010

Manfaat, fungsi dan kegunaan Menulis Indah di Masyarakat

Halus dan indah

Di masa lalu, bahkan hingga 1970-an, anak di bangku sekolah dasar mengenal pelajaran menulis halus. Berbekal pensil berwarna cokelat yang diraut sempurna hingga ujung benar-benar runcing, tangan pun bergerak hingga lahir sebuah tulisan miring. Halus dan indah. Setiap huruf saling bersambung membentuk satu kata dalam keindahan. Rasanya, susah payah menulis satu per satu huruf itu. Perlu modal, teliti dan sabar.

Pelajaran itu tecermin pada tulisan para orang tua yang umumnya seirama--teratur dan indah. Bandingkan dengan tulisan anak muda sekarang. Cenderung tegak dan bulat. Pelajaran itu tak lagi ditemukan anak-anak sekarang. Bukan berarti menulis yang indah itu sudah dilupakan. Orang yang berkantong tebal tetap mengenalnya. Tak hanya goresannya yang terlihat memukau, tapi juga penanya. Tulisan halus dan indah itu berkat alat tulisnya.

Namun, itulah alat. Memang dihadirkan untuk membuat menulis menjadi menyenangkan dan berseni. Jenis pena berseni inilah yang banyak dikantongi atau hadir di meja kerja para eksekutif papan atas. Kelompok ini tentunya ogah menggunakan pulpen yang biasa digunakan anak kuliahan. Merek yang menjadi langganan, di antaranya Montblanc.

Namun, tak jarang untuk menulis yang benar-benar indah itu modalnya seharga mobil anyar. Sebagian membelinya untuk koleksi. Kebanyakan memborongnya demi penampilan. "Di Indonesia ada juga sekelompok orang yang menyukai pena seharga ratusan juta ini. Selain digunakan, juga sebagai kolektor," kata Xavier Dufoix, international commercial director dari Montegrappa, pulpen buatan Italia berkualitas tinggi. Karena itulah, Montegrappa berani membuka butik khusus di Jakarta. Setelah hadir di 40 negara lainnya.

Sudah pasti, tak bakal seperti pena biasanya yang ditaruh sembarang atau tercecer tanpa disadari. Pena ini benar-benar akan ditempatkan seaman mungkin. Bersanding dengan koleksi lain. Hanya dipakai sesekali. Misal, penandatanganan sebuah kontrak atau kerja sama. Lebih sering hanya berdiri tegak di meja kerja. Pena indah ini cuma sesekali menjadi alat kerja, kebanyakan hanya sebagai dekorasi.

Tak salah jika menjadi elemen interior ruang karena pulpen ini benar-benar indah. Fungsinya tak hanya sebagai alat tulis. Seperti halnya saat Lewis Waterman pertama-tama mempersembahkan pulpen tinta dalam kemasan menarik sehingga muncul sebagai bagian dari gaya hidup. Biar lebih modis, dia memberi aksen dengan hiasan kayu. Aliran tinta juga dijamin tak macet, seperti jenis pena tinta sebelumnya. Bahkan Lewis memberi garansi hingga lima tahun. Dia mematenkannya pada 1884 dan menjualkan di toko rokok.

Montegrappa sebenarnya juga barang lawas, karena dibuat sejak 1912. Sejak kemunculannya, pena tinta ini muncul penuh dengan goresan para seniman, berupa lukisan timbul alias relief. Si pena atau pulpen juga menjadi terlihat mewah karena taburan batuan berharga. Benar-benar muncul sebagai benda seni.

Pembuatan satu pulpen, menurut Xavier, membutuhkan waktu sekitar 40 jam. Ada beberapa kelompok pekerja. Dari bagian teknisi, seniman, hingga bagian pemasangan ke-20 elemennya yang dilakukan secara manual. Sebelum dilempar ke pasar, dalam jumlah yang rata-rata terbatas, ada bagian tes--hingga diketahui pasti tinta mengucur dengan lancar saat pena digoreskan. Ernest Hemmingway, salah satunya yang pernah menjadi sebagai juru tes pena ini di masa lampau.

Uniknya, sebagai benda seni yang mewah dan indah, Montegrappa selalu memunculkan motif tradisional. "Sampai sekarang tetap terkait dengan tradisi," ujar Xavier. Tentu, tak terpaku pada tradisi negeri asalnya, tapi juga negara lainnya. Proses pembuatannya juga dibuat sedetail mungkin, seperti ukuran, proporsi, material, dan berat. "Bagaimanapun, harus memberi pleasure of writing," katanya.

Hiasannya bisa berupa emas, perak, titanium, platinum, atau batuan berharga. Harganya untuk reguler berkisar Rp 2,5-8 juta. Untuk edisi terbatas bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta. Nah, seharga mobil kan? Harga tinggi bisa dipahami jika melihat pengerjaan dan elemennya yang digunakan.

Sebuah edisi terbatas yang diberi label Journey on the River Rhine menyuguhkan pemandangan Sungai Rhine yang membelah Eropa dalam low-relief khas Montegrappa. Hanya lewat sebuah pena, Anda bisa menyusuri sungai itu dari Pegunungan Alpen hingga dataran rendah yang penuh dengan pohon anggur, kastil di bukit-bukit, dan pohon-pohon black forest. Jumlah produksi edisi ini hanya 500 pena tinta dan 500 pulpen dengan lapisan perak, sedangkan dalam lapisan emas 18 karat masing-masing 50 buah.

Senang batuan, berarti Anda cocok dengan edisi Human Civilization. Dalam bentuk artistik, pena ini menghasilkan batuan warna-warni. Hingga muncul layaknya galeri seni. Delapan gambar yang bersatu dalam sebatang pena itu mewakili langkah-langkah manusia menuju milenium ketiga. Dibuat 1.912 pena tinta dalam lapisan perak dan hanya 100 buah yang menggunakan emas 18 karat.

Bola dunia antik model abad ke-17 pun bisa muncul dalam sebatang pulpen. Lapisan emas dan perak itu penuh dengan detail seperti halnya peta sungguhan. "Seniman mengerjakan dengan kesabaran tinggi karena medianya yang terbatas. Maka perlu kaca pembesar manakala setiap kali mengukirnya," tutur Xavier. Melelahkan tentunya, hingga layak mendapat bayaran tinggi!

No comments:

Post a Comment