Di masa lalu, bahkan hingga 1970-an, anak di bangku sekolah dasar mengenal pelajaran menulis halus. Berbekal pensil berwarna cokelat yang diraut sempurna hingga ujung benar-benar runcing, tangan pun bergerak hingga lahir sebuah tulisan miring. Halus dan indah. Setiap huruf saling bersambung membentuk satu kata dalam keindahan. Rasanya, susah payah menulis satu per satu huruf itu. Perlu modal, teliti dan sabar.Pelajaran itu tecermin pada tulisan para orang tua yang umumnya seirama--teratur dan indah. Bandingkan dengan tulisan anak muda sekarang. Cenderung tegak dan bulat. Pelajaran itu tak lagi ditemukan anak-anak sekarang. Bukan berarti menulis yang indah itu sudah dilupakan. Orang yang berkantong tebal tetap mengenalnya. Tak hanya goresannya yang terlihat memukau, tapi juga penanya. Tulisan halus dan indah itu berkat alat tulisnya.
Namun, itulah alat. Memang dihadirkan untuk membuat menulis menjadi menyenangkan dan berseni. Jenis pena berseni inilah yang banyak dikantongi atau hadir di meja kerja para eksekutif papan atas. Kelompok ini tentunya ogah menggunakan pulpen yang biasa digunakan anak kuliahan. Merek yang menjadi langganan, di antaranya Montblanc.
